Senin, 30 September 2019

Naskh mansukh


MAKALAH MATA KULIAH STUDY AL QUR`AN





 Dosen pengampu :
Prof. Dr.Moh. Ali Aziz, M.Ag 
NIP. 195706091983031003

Asisten Dosen :
Ati’ Nursyafa’ah M.Kom.I


Disusun Oleh :
 Dewi Bahajah Himami Khofshowati 
NIM:B71219061


JURUSAN KOMUNIKASI PENYIARAN ISLAM
FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI
UNIVERSITAS NEGRI SUAN AMPEL SURABAYA
2019








KATA PENGANTAR

Alhamdulillahirabbil’alamin, puji syukur kehadirat Allah SWT, atas segala rahma dan hidayah-nya. Shalawat serta salam senantiasa tercurakan kepada junjugan Nabi Agung Muhammad
SAW yang selalu kita nantikan syafa’atnya di akhirat nanti. 
Penulis mengucapkan syukur kepada Allah SWT atas imahan nikmat sehat-nya, baik iu berupa sehat fisik maupun akal pikiran , sehingga penulis mampu untuk menyelesaikan pembuatan makalah sebagai tugas dari mata kuliah Studi Al-Qur’an dengan judul “Nasikh dan Mansukh”.
Penulis tentu menyedari bahwa makalah ini masih jau dari kata sempurna dan masih banyak terdapat kesalahan seta kekurangan di dalamnya. Untuk itu, penulis mengharapkan kritik serta saran dari pembaca unuk makalah ini, supaya makalah ini nantinya dapat menjadi makalah yang lebih baik lagi. Demikian, dan apabila terdapat banyalk kesalahan pada makalah ini penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya.

Surabaya, 6 september 2019


Penyusun 
























DAFTAR ISI

















BAB I


PENDAHULUAN


     


 A. Latar Belakang

 Nasakh  terbatas pada ketentuan hukum yang datang kemudian, guna membatalkan atau mencabut atau menyatakan berakhirnya masa pemberlakuan hukum yang terdahulu, sehingga ketentuan hukum yang berlaku adalah yang ditetapkan di akhir. 
 Para ulama’ terdahulu mempertahankan pemahaman adanya ayat yang hanya isi atau hukumnya dihapus, sedangkan bacaannya tetap.  Hukum yang dimansukh harus berupa hukm shara’ (bukan hukum akal, dan bukan hukum produk manusia), yakni titah Allah dan Rasul-Nya yang berhubungan dengan perbuatan mukallaf, baik wajib, haram, nadb, makruh, maupun mubah. 
 Adanya dalil baru yang menganti (nasikh) harus setelah ada tenggang waku dari dalil hukm pertama (mansukh). Antara dua dalil nasikh dan mansukh atau dalil 1 dan 2 tersebut harus ada pertentangan yang nyata (kntradiktif), dalil yang mengganti (nasikh) harus bersifat mutawatir. Karna dalil ang ketetapan hukunya telah terbukti secara pasti, maka tidak dapat di-nasikh kecuali oleh hukum yang terbukti secara pasti pula.[1] 
 Fenomena nasikh  dalam pemikiran agama yang hegemoni dan dominan melahirkan dua problem yan dihindari untuk didiskusikan.  Dalam al-Qur'an dijelaskan tentang adanya induk pengertian hunna umm al-kitabyang sudah mempunyai kekuatan hukum tetap. Ketentuan-ketentuan induk itulah yang senantiasa harus menjadi landasan pengertian dan pedoman pengembangan berbagai pengertian, sejalan dengan sistematisasi interpretasi dalam ilmu hukum -hubungan antara ketentuan undang-undang yang hendak ditafsirkan dengan ketentuan-ketentuan lainnya dari undang-undang tersebut maupun undang-undang lainnya yang sejenis, yang harus benar-benar diperhatikan supaya tidak ada kontradiksi antara satu ayat dengan ayat lainnya.
 

B. Rumus Masalah

1.    Apa pengertian Nasikh-Mansukh?
2.    Apa saja kontroversi tentang Nasikh-Mansukh dalam Al-
Qur’an?
3.    Apa saja contoh-contoh Nasikh-Mansukh dalam Al-
Qur’an?

      C. Tujuan

1.             Untuk memahami dan mengetahui tentang pengertian Nasikh dan Mansukh
2.             Agar umat islam dapat menjaga perkembangan hukum islam selalu relevan dengan semua situasi dan kondisi umat yang  mengamalkan dan mengaktualkan.
3.             Untuk penahapan dalam tashri’ dan pemberian kemudahan/ keringanan.















BAB II
PEMBAHASAN


A. Pengertian Nasakh dan Mansukh

An-nasakh merupakan masdar dari nasakh, yang secara harfiah berarti menghapus, memindahkan, mengganti, atau mengubah. 
Secara etimologi nasakh memiliki beberapa arti diantara lain;
1)    Al-izalah wa al-I’dam (menghapus menghilangkan) seperi pada Q.S.al-Hajj:52
2)    At-Taghyir wa al-ibtal wa iqamah ash-sha’i maqamahu
(mengganti atau menukar) sebagaimana Q.S.al-Baqarah:106
3)    At-Tahwil ma baqa’ihi fi nafsihi/at-Tabdil (memalingkan atau mengutip) Tidak ada contoh dalam Al-Qur’an
Makna yang paling relevan menurut pandangan para pendukung adanya teori dan konsep nasakh mansukh adalah dalam arti at-Taghyir wa al-ibtidal wa iqamah ash-shai’ maqamahu (mengganti atau menukar) atau arti at-tahwil ma baqa’ihi fi nafsihi atau at-tabdil (memalingkan atau memindahkan)
Mansukh secara etimologi berarti sesuatu yang diganti. Secara terminologi berarti hukum shara’ yang menempati posisi awal, yang belum diubah dan belum diganti dengan hukum shara’ yang datang kemudian. 
Arti nasakh mansukh dalam istilah fuqaha’ antara lain;[2]
1.     Membatlkan hukum yang telah diperoleh dari nas yang telah lalu dengan suatu nas yang baru datang. Seperti ziarah kubur oleh Nabi saw, lalu, lalu Nabi memperbolehkannya. 
2.     Mengangkat nas yang umum, atau membatasi kemutlakan nas. 
 
3.     Contoh mengangkat atau menghilangkan yang umum.

B. Kontroversi Tentang Adanya Nasikh-Mansukh Dalam Al-Qur’an 

a.     Latar belakang timbulnya teori nasikh mansukh  Latar belakang timbulnya teori naskh-mansukh dalam islam antara lain;
1)    Timbulnya isu nasikh-mansukh dalam assunnah.
2)    Para sahabat menggnakan isilah nasikhmansukh dalam Al-Qur’an.dan yang dikehendaki adalah pentakhsisan dari yang ‘am, pentaqyidan dari yang mutlaq, dan penafsilan dari mujmal.
3)    Adanya ayat-ayat yang sepintas lalu menunjukkan gejala konradiksi.
b.     Pendapat Ulama’ Tentang Teori Nasikh-Mansukh Fenomena tersebut diatas, telah melahirkan sikap pro     dan kontra dari para ulama’tentang konsep nasikhmansukh.
1)    Pendukung teori nasikh-mansukh dalam kontek makna yang pertama (penghapusan atau hukum tdak berlaku lagi) antara lain; 
a.     As-shafi’iy
b.     Para jumhur ulama’ klasik termasuk di dalamnya an-Nahas (388H), assayutiy   (911H),            ash-Shawkaniy
(1250H.), dan lain-lain.
c.     Adanya kenyataan, bahwa beberapa ayat-ayat ada yang menunjukkan gejala kontradiksi. Misalnya dalam penelitan an-Nahas (388H) terdapat ayat yang berlawanan denga ayat-ayat yan lain berjimlah 100 ayat, sehingga menurutnya realitas yang ditemukan terebut, mengindikaskan adanya ayatayat yang di mansukh. Kemudian juga sesudahnya as-Sayutiy (911H.) hanya menemukan 20 ayat saja. Elanjutnya ash-Shawkaniy (1250H.) bahkan hanya menemukan 8 ayat saja yang tidak mampu dikompromikan. [3]
2)    Penolak teori nasikh-mansukh yang memahaminya dalam kontek makna keempat yang dipelpori oleh Abu Muslim al-Asfahaniy berdasarkan Q.S.Fussilat: 42
Kebanyakan ayat-ayat yang tertuang di dalam al-Qur’an bersifat kulliyah bukan juz’iy-khas, dan hukum-hukumnya di dalam Al-Qur’an diterangkan secara ijmaliy bukan secara khas. Adanya ayat-ayat yang sepintas nampak kontradiksi, tidak memastikan adanya nasikh, karena ayat-ayat tersebut semakin mampu dibuktikan pengompromiannya. Dengan sedikit memberikan ta’wil atau penafsiran di dalamnya, upaya ini untuk membuktikan kebenaran Q.S. an-Nisa’: 82;
Atas dasar yang meyakinkan da logis tersebut, maka Teungku M.Hasbi Ash Shiddieqy menegaskan pendapatnya diantara lain;[4] 
a)     Al-Qur’an tidak menerangkan ayat-ayat mansukhah
b)    Tidak diterima Hadith yang menjadi nasikh
c)     Tidak adanya kesepakatan para ulama’ tentang ayat-ayat yang dianggap mansukhah dan tentang penetapan adanya naskh
d)    Bila dapat ditafsirkan (dikompromikan), maka tidak lagi dianggap mansukhah
e)     Hikmah adanya nasikh-mansukh tidak nyata.

   C. Contoh-contoh Nasikh-Mansukh dalam Al-Qur’an

Q.S. al-Maidah:3



 حُ رِّمَ تۡۡ عَل يَكُمُۡۡ ٱ لمَ يتةَُۡۡ وَٱلدمَُّۡۡ وَلَ حمُۡۡ ٱ ل خِّنزِّيرِّۡۡ وَمَاۡ أهُِّلَّۡۡ لِّغ يَرِّٱللَِّّّۡ بِّهۦِّۡ

Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah daging babi, (daging hewan) yang disembelih tidak atas nama Allah.

Q.S. al-An’am: 145;


قلُۡ  لَّّۡأجَِّدُۡ فِّيۡۡ مَاۡ أوُحِّيَۡ إِّلَيَّۡۡ مُحَرَّمًاۡ عَلَ ىۡۡ طَاعِّ مۡۡ ي طَعمَُ ۥۡهُ إلَِّّّۡۡ أنَۡ يكَُونَۡۡ مَ يتةًَۡ أ وَۡ دمَٗا مَّ سفوُحًاۡأ وَۡۡ لَ حمَۡ خِّنزِّي رۡۡ فَإنَِّّهۥُۡ رِّ ج سۡۡ أ وَۡۡ ف سِّقًاۡ أهُِّلَّۡۡ لِّغ يَرِّۡۡ ٱللَِّّّۡ بِّ ۦِّۡۡه فمََنِّۡۡ ٱ ضطُرَّۡۡ غَ يرَۡۡ بَا غۡ وَلَّۡۡ عَا دۡۡ فَإنَِّّۡۡ رَبكََّۡۡ غَفوُ رۡۡ رَّحِّي مۡ


Katakanlah: “Tidaklah aku peroleh dalam wahyu yang diwayuhkan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi—karena sesungguhnya semua itu kotor atau binatang yang disembelih bukan atas nama Allah. Barang siapa dalam keadaan terpaksa sedangkan dia tidak menginginkannya dan tidak menginginkannyadan tidak (pula) melampaui batas, maka sesungguhnya Tuhanmu maha pengampun lagi maha penyayang”. 
Nas yang pertama mengenai segala jenis darah ( mutlaq) sedangkan nas kedua membatasinya yaitu darah yang mengalir.
Q.S. al -Baqarah: 228;
  وَٱ لمُطَل قََّتُۡ يتَرََبَّ صنَۡۡ بِّأنَفسُِّهِّنَّۡۡ ث لََثةََۡۡ قرُُ و  ءۡ

Dan wanita-wanita yang ditalaq hendaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru’

Q.S. al-Ahzab: 49;

 يََٰٓأيَ ّ ُهَاۡ ٱلَّذِّينَۡۡ ءَامَن وُۡا إِّذاَۡ نكََ حتمُُۡ ٱ لمُ ؤمِّ نَتِّۡۡ ثمَُّۡۡ طَلَّ قتمُُوهُنَّۡ مِّنۡ ق بَلِّۡۡ أنَۡ تمََسُّوهُنَّۡۡ فمََاۡ لكَُ مۡ عَل يَهِّنَّۡۡ مِّ نۡۡ عِّد ةَّۡۡ ت عَتدَوُّنَهَ اۡ فَمَتِّ عوُهُنَّۡۡ وَسَ رِّحُوهُنَّۡۡ سَرَاحٗاۡ جَمِّيلۡٗ
  
Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu menikahi perempuan-permpuan yang beriman, kemudian kamu ceraikan mereka sebelum kamu mencampurinya maka sekali-kali tidak wajib atas mereka ‘iddah bagimu yang ku minta menyerupakannya. Maka berilah namun mereka mut’ah dan lepaskanlah mereka itu fengan cara yang sebaik-baiknya. 

  Nas yang pertama umum; termasuk di dalamnya istri yang sudah di dukhul (dicampuri) dan yang belum. Sedangkan nas yang kedua khusus tertuju pada istri yang belum di dukhul (dicampuri)

Q.S. an-Nur:4;

َّٱلَّذِّينَۡ يَ رمُونَۡۡٱ لمُ حصَ نتَِّۡ ثمَُّۡۡلَ مۡ يَ أتوُا بِّأ رَبَعَةِّۡ شُهَداَ ءَۡۡفَٱ جلِّدوُهُ مۡ ث مََنِّينَۡ جَ لدةَۡٗ وَلَّۡ ت قَبَلوُا ۡلهَُ مۡۡ شَ هَدةًَۡۡأبََدٗ اۡ وَأ وُ ل ئَكَِّۡۡ هُمُۡۡ ٱ ل فسَِّقوُنَۡ

Dan orang-orang yang menuduh wanita-waanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralaah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesakssiaan mereka buat selamalamanya. Dan meraka itulah orang-orang fasik.

Q.S. an-Nur:6-9;

وَٱلَّذِّينَۡ يَ رمُونَۡۡأ زَ وَجَهُ مۡ وَلَ مۡ يكَُنۡلَّهُ مۡۡشُهَداَ ءُۡۡإلَِّّّۡ ۡأنَفسُُهُ مۡۡفشََ هَدةَُۡۡأحََدِّهِّ مۡۡأ رَبَعُۡ شَ هَ د تَِّۡ بِّٱللَِّّّۡۡإنَِّّهۥُۡلمَِّنَۡۡٱل صَّدِّقيِّنوََٱ ل خَمِّسَةُۡۡأنََّۡۡل عَنتََۡۡٱللَِّّّۡۡعَلَ يهِّۡۡإِّن كَانَۡ مِّنَۡۡٱ ل كَذِّبيِّنوََٱ ل خَمِّسَةُۡۡأنََّۡۡل عَنتََۡۡٱللَِّّّۡۡعَل يَهِّۡۡإِّنۡ
 كَانَۡۡ مِّۡنَۡۡ ٱ ل كَذِّبيِّنَۡ
Dan orang-orang yang menuduh istrinya (berzina), padahal mereka tidak ada mempunyai saksi-saksi selain diri mereka sendiri, maka persaksian orang itu ialah empat kali bersumpah dengan nama Allah, sesungguhnya dia adalah termasuk orang-orang yang benar.  Dan (sumpah) yang kelima: bahwa la’nat Allah atasnya, jika dia termasuk orang-orang yang berdusta.
Istrinya itu dihindarkan dari hukuman atau sumpahnya empat kali atas nama Allah sesungguhnya suaminya itu benar-benar termasuk orang-orang yang dusta, dan (sumpah) yang kelima: baahwa la’nat
Allah atas jika suaminya itu termasuk oraang-oraang benar

 Nas yaang pertama umum; termasuk didlamnya suami. Sedang nas yang kedua khusus hanya bagi suaaminya. 

Q.S. al-Baqarah: 106;

 ۞مَاۡ نَنسَ خۡۡ مِّ نۡۡ ءَايَ ةۡۡ أ وَۡۡ ننُسِّهَا نَ أتِّۡۡ بِّخَ ي رۡۡ مِّ نهَاۡ أ وَۡ مِّ ثلِّهَ اۡ ألََ مۡۡ ت عَلَ مۡۡ أنََّۡۡٱللََّّۡۡ عَلَ ىۡ كُ لِّۡۡ شَ ي ءۡۡ قَدِّي رۡ

Ayat mana saja[5] yang kami nasakhkan, atau kami jadikan (manusia) lupa kepadanya. Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau sebaanding dengannya. Tidakkah kamu mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segaala sesuatu?

Q.S. an-Nahl:101;

 وَإِّذاَ بَد لَّنَاۡ ءَايَةۡۡٗ مَّكَانَۡۡ ءَايَ ةۡ وَٱللَُّّۡۡأ عَلمَُۡۡ بمَِّاۡ ينَُ زِّلُۡۡ قَال وُاۡ إنِّمََّاۡ أنَتَۡ مُ فت رَِّّ ۡ بَ لۡۡ أ كَثرَُهُ مۡۡ لَّۡۡ يَ علمَُونَۡ

Dan apabila kami letakkan suatu ayat di tempat ayat yang lain sebaagai penggantinya padahal Allah lebihmengetahui apa yang diturunkan-Nya, mereka berkata ‘sesungguhnya kamu adalah orang yang mengda-adakan saja”. Bahkan kebanyakan mereka tiada mengetahui.
 
















BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan 
1.     Secara etimologi Nasikh memiliki beberapa arti namun makna yang paling relevan menurut pandangan para pendukung adanya teori dan konsep Nasikh-Mansukh adalah dalam arti at-Taghyir wa al-Ibtal wa Iqamahash-
Shai’ maqamahu (mengganti atau menukar) atau at-
Tahwil ma Baqa’ihi fi nafsihi atau at-Tabdil (memalingkan atau memindahkan).
2.     Secara terminologi nasikh ialah menggantikan hukum shara’ dengan memakai dalil shara’ dengan adanya tenggang waktu.
3.     Sedangkan makna mansukh secara etimologi adalah sesuatu yang diganti. Sedang secara terminologi adalah hukum shara’ yang menempati posisi awal yang belum diubah dan belum diganti dengan hukum shara’ yang datang kemudian.












DAFTAR PUSTAKA


Ash-Shatibiy, al-muwafaqat fi usul al-fiqh (Beirut: Dar al-Ma’ari, 1975) III:105

M. Khudari, Tarikh al-tasyri’ dan usul fiqh

Teungku M.Hasbi Ash Shiddieqy. Sejarah & pengantar ilmu AlQur’an dan tafsir. Semarang : PT.Pustaka Rizki Putra,2000

Ali Aziz,Moh.Mengenal tuntas al-Qur’an Surabaya IMTIYAZ 2018

Reviewer Tim MKD.Studi al-Qur’an Surabaya Sunan Ampel 2014

MKD Tim Uin Sunan Ampel. Studi al-Qur’an Surabaya 2013

Al Qattan, Manna’ Khalil, Mabahis fi ‘Ulumil Qur’an, diterj. Mudzakir, Studi Ilmu-Ilmu Qur’an. Bogor: PT Pustaka Litera AntarNusa, cet 14, 2011.





[1] Ash-Shatibiy, al-muwafaqat fi usul al-fiqh (Beirut: Dar al-Ma’ari, 1975) III:105
[2] M. Khudari, Tarikh al-tasyri’ dan usul fiqh
[3] Teungku M.Hasbi Ash Shiddieqy, sejarah & pengantar.,104
[4] Teungku M.Hasbi Ash Shiddieqy, sejarah & pengantar: 126
[5] Para mufssirin berlainan pendaapat tentang arti ayat, ada yang mengartikan aayat al-Qur’an, dan ada yang mengartikan mukjizat.